Minggu, 07 Desember 2008

BIO Pestisida

Bio Pestisida
Tindakan Nyata Menyelamatkan Bumi

Pernyataan untuk meminimalisasi efek “global warming” telah keluar dari berbagai pihak dan berbagai negara tujuannya satu yaitu menjaga bumi tercinta. Namun tidak banyak yang dapat memaknainya, sebagian orang telah begitu akrab di telinganya serta konsumsi sehari-hari bagi indera penglihatannya logo-logo “Save Our World”, “Stop global Warming” dan lain sebagainya tetapi tetap saja sengaja atau tidak aktifitasnya malah menambah berat beban penderitaan bumi ini.

Banyak langkah nyata untuk sedikit meringankan beban bumi dalam menghadapi ulah manusia, contoh kecil ialah tidak membuang sampah baik organik terlebih lagi anorganik sembarangan. Serta meminimalisasi penggunaan bahan bakar fosil, gas freon, penggunaan bahan kimia dan lainnya.
Salah satu contoh nya adalah menggunakan pestisida alami untuk mengendalikan hama tanaman. Pengendalian menggunakan pertisida hayati lebih akrab lingkungan karena bahan kimia nabati ini dapat mudah terurai selain itu cukup mudah dibuat oleh petani karena bahan baku umumnya mudah di dapat, dan harga pembuatan yang terjangkau.
Beberapa contoh pestisida nabati yang dapat mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman pisang misalnya:

1.Serei Wangi (Andropogon nardus L).
Dikenal sebagi obat tradisional dan kosmetik. Tanaman ini dapat digunakan sebagai menggantikan pestisida kimia yaitu untuk insektisida, bakterisida, dan nematisida. Senyawa aktif dari tanaman ini berbentuk minyak atsiri yang terdiri dari senyawa sitral, sitronella, geraniol, mirsena, nerol, farnesol, metil heptenol dan dipentena.
Tanaman ini dapat mengendalikan Tribolium sp,; Sitophilus sp.; Callosobruchus sp.; Meloidogyne sp.; dan Pseudomonas sp.

Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : a). Daun dan batang ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l; b). Kemudian endapkan selama 24 jam kemudian disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan; c). Aplikasi dilakukan dengan cara disemprotkan atau disiramkan; d). Sedangkan untuk pengendalian hama gudang dilakukan dengan cara membakar daun atau batang hingga didapatkan abu, lalu sebarkan / letakkan didekat sarang atau dijalur hama tersebut mencari makan.

2.Bakung (Crinum asiaticum L)
Biasanya pemanfaatan sebagai bahan obat tardisional depresan sistem syarat pusat. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pengganti pestisida yang berfungsi sebagai bakterisida, dan virisida. Senyawa dari tanaman ini mengandung alkaloid yang terdiri dari likorin, hemantimin, krinin dan krianamin.

Tanaman ini bermanfaat untuk menekan /menghambat pertumbuhan Fusarium oxyporum.
Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : a). Menumbuk daun dan atau umbi lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam. c). Larutan hasil perendaman ini disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan. d) Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan.

3.Sirih (Piper betle L)
Selain sebagai bahan baku obat tradisional, dapat juga di gunakan sebagai bahan pestisida alternatif karena dapat bersifat sebagai fungisida dan bakterisida. Senyawa yang dikandung oleh tanaman ini antara lain profenil fenol (fenil propana), enzim diastase tanin, gula, amilum/pati, enzim katalase, vitamin A,B, dan C, serta kavarol. Cara kerja zat aktif dari tanaman ini adalah dengan menghambat perkembangan bakteri dan jamur.
Tanaman ini walaupun belum secara efektif dapat mengendalikan Phytophthora sp,; Fusarium oxyporum, Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus.
Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan : a). Daun sirih ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam, b). Setelah itu disaring agar didapatkan larutan yang siap diaplikasikan. c). Aplikasi dilakukan dengan cara penyiraman larutan semprot ke sekitar tanaman yang sakit atau dengan mengoleskan larutan pada bagian yang terserang (sakit).

Adapun kelemahan pestisida nabati adalah :
a). Daya tahan yang singkat (sangat mudah berubah/terurai), oleh karena itu volume aplikasi harus direncanakan dengan cermat agar efisien,
b). Konsentrasi larutan yang dihasilkan masih tidak konsisten karena sangat tergantung pada tingkat kesegaran bahan baku.
c). Diperlukan standar pengolahan untuk tiap tanaman dan standar aplikasi penggunaan bagi pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman)

ARTIKEL TERKAIT:

mjumani, Updated at: Minggu, Desember 07, 2008

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Maaf Pesan Akan di Moderasi Dulu Sebelum Di Terbitkan
Pesan yang kurang sopan atau kurang pantas akan di Hapus.

 

mjumanion