Minggu, 07 Desember 2008

Morfologi Binjai


“Binjai” Tanaman Yang Mulai Terlupakan

Kemajuan jaman ternyata tidak selamaya positif, pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi telah mengubah paradikma masyarakat menjadi lebih modern dan cenderung berpola pikir instan. Pemenuhan kebutuhan baik primer, skunder maupun tersier cenderung ke produk modern dan mulai meninggalkan kehidupan tradisonal yang lebih sederhana.
Salah satu imbasnya adalah banyaknya jenis tanaman yang tersingkirkan karena posisinya sudah mulai tergantikan dengan produk pabrik misalnya Binjai.

Binjai (Buchanania obovata) memiliki Kandungan Kira-kira 65% dari keseluruhan buah binjai dapat dimakan. Setiap 100 g bagian yang dapat dimakan mengandung: 86,5 g air, 1 g protein, 0,2 g lemak, 11,9 g karbohidrat (termasuk serat), 0,4 g abu, 0,08 mg tiamina, 0,005 mg ß-karotena, dan 5 8 mg vitamin C. Nilai energinya 200 kJ/100 g. Sari buah yang berwarna putih dari binjai yang masih muda sangat gatal, baik terhadap kulit maupun jika dimakan; pernah digunakan untuk mencederai musuh! Ada pun sari buah kemang tidak pernah melukai kulit. Botani Binjai berperawakan pohon besar, seringkali mempertahankan penampilannya yang menarik, tingginya 30(-45) m, dan batangnya berdiameter 50-80(-120) cm atau lebih. Batangnya berbentuk tugu, tak berakar papan, tajuknya berbentuk kubah dengan percabangan yang rapat; kuiit kayunya berwarna coklat-kelabu, bagian luarnya beralur-alur, mengandung getah yang gatal. Daunnya berbentuk jorong sampai bentuk lanset, mendekati bundar telur sungsang, berukuran (7-)1012(-30) cm x (3-)4--5,5(-10) cm, lembaran sebelah atas berwarna hijau 'medium' dan berkilap, lembaran sebelah bawah lebih pucat warnanya, daun-daun sering bergerombol di ujung ranting, kaku, menjangat, meluncip tumpul atau menumpul; ibu tulang daun tebal, memipih, muncul di lembaran sebelah atas, pangkalnya lambat-laun melanjut; tangkai daun kaku, memipih, panjangnya 1-1,5(-2,5) cm. Malai bunga di ujung ranting, panjangnya 15-25(40) cm, bercabang banyak dengan rakis dan cabang yang kaku, berbunga lebat, bunga berwarna merah jambu pucat; bagian-bagian bunga berbilangan 5, berwarna lila pucat, harum; daun mahkota tinier, panjangnya mencapai 10 mm, tidak terlalu melipat seperti pada sebagian besar bunga mangga lain, hanya sedikit melipat pada bagian atas; benang sari yang fertil hanya seutas, tangkai sari panjangnya 5 mm, pangkalnya berwarna putih, makin ke ujung berwarna lembayung, berisi staminodia sebanyak 4 dan mirip gigi bentuknya; cakramnya sempit, mirip tangkai, panjangnya 1-1,5 mm, berwarna hijau pucat; bakal buahnya berbentuk bulat sadak (obliquely globose), berwarna coklat-kemerahan; tangkai putik nya eksentrik, panjangnya 8 mm, berwarna putih, berubah menjadi ungu setelah bunga mekar.
Buahnya bertipe buah buni yang berbentuk lonjong sampai bulat telur sungsang, pangkalnya berleher, berukuran { 12-15(-20)} cm x {6-7(-12)} cm; kulit buah berwarna kekuningan atau kecoklatan pucat, sangat tipis (1 mm), daging buahnya berwarna keputih-putihan, lembut dan mengandung banyak sari buah, berserat, rasanya asam yang khas, dan setelah matang baunya keras. Varietas 'wani': buahnya berbentuk jorong sampai membulat, berukuran (9-11) cm x (6,5-7) cm, setelah matang berwarna hijua muda berkilap, daging buahnya berwarna putih susu; yang paling unggul hampir tidak berserat dan rasanya manis serta enak sekali; bijinya berbentuk lanset sampai menjorong, berukuran kirakira 7 cm x (3,5-4) cm, tidak memipih, berkulit tipis, endokarpnya tidak mengayu, tersusun atas serat-serat kasar yang teranyam, bersifat monoembrioni (sumber : www.iptek.net.id)

Di kalimantan selatan Binjai terkenal sebagai bahan untuk membuat sambal ( Binjai masam) untuk menyantap nasi bersama ikan sungai dan salah satu buah yang di gemari ( binjai manis). Namun sekarang binjai sudah sulit dicari karena masyarakat sekarang cenderung memilih sambal buatan pabrik selain instan juga mudah di di dapat.
Dengan menurunnya minat masyarakat untuk menggunakan tanaman Binjai maka akan berdampak mengurangi populasi binjai sebab keinginan membudidayakannya menjadi rendah. Bagaimana jadinya keberadaan tanaman ini di masa mendatang jika masyarakat sduah benar-benar melupakan keberadaannya.

ARTIKEL TERKAIT:

mjumani, Updated at: Minggu, Desember 07, 2008

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Maaf Pesan Akan di Moderasi Dulu Sebelum Di Terbitkan
Pesan yang kurang sopan atau kurang pantas akan di Hapus.

 

mjumanion