Jumat, 19 Juni 2009

Waktu Aku Masih Buta

Cermin (cerita mini)
Oleh : Tina

Waktu aku masih buta

Beberapa kali aku mempertimbangkan memuat tulisan ini. Tapi akhirnya toh tetap ku muat juga karena bagiku sekarang tulisan ini tinggal sepenggal cerita bodoh yang pengalamannya sangat memberi pengaruh dalam hidupku di masa sekarang. Dorongan untuk memuat tulisan ini tak lebih daripada hasrat untuk menuangkan apa yang pernah ku tulis dulu, itu saja. Rasanya sayang kalau dibiarkan apek dalam buku agendaku. Apalagi tintanya juga mulai blur. Semoga tak ada yang terganggu.
"UNTUKMU. Ini kisahku. Dia datang dalam hidupku saat aku masih menginginkanmu, walaupun kau tak dapat membaca hal itu. Dia recoki imajinasiku tentangmu, dia renggut kesibukanku berharap padamu. Ku coba alihkan perhatianku padanya tapi aku masih sangat mengharapkanmu, aku masih menunggumu yang ku puja datang dan membawaku dalam hidupmu. Tapi perjuangannya mulai menggeser posisi mutlak yang sejak kecil kusisihkan untukmu dengan hal-hal indah yang dia suguhkan. Ku masih pertahankanmu di hatiku walaupun kau tak kunjung hadir. Dia ungkapkan rasa itu dan ku pilih dirinya saat itu juga tapi aku belum melupakanmu. Pikirku ingin mencoba, dan lebih cepat memulai lebih cepat pula mengakhiri.
Sekejap bersamanya, membuatku ragu, aku yakin kau yang ku mau, bukan dia! Aku sengaja membuatnya merasa hampa denganku agar bisa bebas segera dan kembali menantimu yang tak pernah inginkan aku...dan dia terus meyakinkanku, aku tak terima ini tapi sedikitpun dia tak sangsikan perasaanku. Dia tak pernah gagal membuatku merasa indah. Semakin aku terpikat padanya semakin aku ingin bebas darinya agar hatiku tetap padamu. Aku sungguh ingin segera bebas darinya. Tapi taukah kau? Dia telah membuatku jatuh cinta saat aku ingin akhiri segalanya.
Dan kisah ini terus terjahit benang semu bernama 'sayang', di saat perasaan lelaki baik hati ini tumpah ruah untukku, aku dengan entengnya kembali merasa hampa, hatiku seperti mati, perasaan meluap-luap yang awalnya mulai bercokol di hatiku tiba-tiba lenyap tak pamit! Tak ku hiraukan lelaki malang ini. Tapi dia sangat teguh! Selama beberapa waktu dia berjuang untuk merebut perhatianku lagi, tapi hatiku masih mati! Entah kenapa bisa! Aku tak peduli dipandangnya penghianat, munafik, tak bertanggung jawab! Tapi begitulah yang terjadi padaku! Untuk itu kenapa saat itu aku hanya diam. Aku merenungi betapa bengisnya hatiku kini. Sementara itu dia tak pernah tahu bahwa yang selalu kupikirkan adalah kamu! Ini semua terjadi karena kau masih tersisa di hatiku, belum terbuang sepenuhnya!
Dan kau perlu tau juga, lelaki yang menyayangiku secara luar biasa ini juga punya batas kesabaran, dan sudah tercapailah limitnya! Ditawarinya untuk mengakhiri hubungan kami...aku terkejut...tapi senang luar biasa! Karena ini yang kutunggu sedangkan aku tak tega kalau harus memulai melakukan itu...
Tawarannya kusambar begitu saja dan sejak saat itu kuanggap semuanya selesai.
Tapi, taukah kamu? Ternyata itu hanya umpan. Dia hanya ingin tahu yang kumau! Dia hanya ingin tahu perasaanku padanya! Dia hanya ingin kepastian hatiku tentang dirinya! Tapi semuanya telah terjadi! Di saat dia memohon untuk membalik semuanya hatiku terlanjur sangat hampa, kering, dan mati. Hatiku terkunci rapat. Tak ada air apapun yang dapat mengisi kegersangan hatiku kecuali kamu. Kamulah pemilik kunci itu. Dan impianku terwujud, kami benar-benar berakhir, usai dan...PUTUS!!! Aku memang sangat kejam padanya!!
Kamu harus tahu ini. Hanya sedikit dari perhatianmu saja sudah mampu membuka peti hatiku. Hanya sebuah senyum darimu sudah mampu menghidupkan perasaanku. Hanya tatapanmu yang tak pernah kudapatkan yang bisa menyentuh kalbuku. Hai, tahukah kamu?! Bahkan melihat, menunggu, mengharapkan kedatanganmu disisiku sudah mampu membuatku merasa indah dan. . . . . . mengharapkanmu lewat di hadapanku tanpa menoleh pun sudah bisa membuatku merasa menjadi bidadari tercantik di surga.
Kamu, masih tetap ku cintai!"
Aku puas bisa membagi ini. Walaupun cerita ini di masa sekarang tak berlaku lagi bagiku karena pandanganku sudah berubah seiring bertambahnya tanggungjawabku dan semakin besarnya tantangan yang kuhadapi. Karena aku yakin bahwa kekurangan yang kumiliki akan dilengkapi oleh seseorang yang sudah disediakan-Nya untuk membimbing hidupku menuju surga-Nya.

Baca juga Part 1Part 2Part 3, dan Part 4 nya. 

ARTIKEL TERKAIT:

mjumani, Updated at: Jumat, Juni 19, 2009

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Maaf Pesan Akan di Moderasi Dulu Sebelum Di Terbitkan
Pesan yang kurang sopan atau kurang pantas akan di Hapus.

 

mjumanion