Rabu, 17 Desember 2014

Archaebacteria, Klasifikasi dan Contohnya

Metanogen
Merupakan kelompok Archaebacteria yang mampu menghasilkan metan (CH4) dari karbon dioksida (CO2) atau hydrogen (H2). Metanogen menggunakan hydrogen sebagai sumber energy dan karbon dioksida sebagai sumber karbon pertumbuhannya. Dalam proses pembentukan gas metan itu, dihasilkan energi (ATP). Reaksinya sebagai berikut :

4H2 --> CH4 + 2H2O + ATP
Metanogen merupakan organism anaerob obligat. Secara alami, mereka hidup di kubangan, rawa, tempat pembuangan limbah, dan saluran pencernaan hewan termasuk manusia, disebut gas intestinal. Karena menghasilkan gas metan, metanogen digunakan dalam bidang industry untuk mengolah limbah dan memurnikan air. Metanogen dapat dieksploitasi untuk menghasilkan energi dari bahan-bahan limbah. Gas metan banyak dihasilkan selama proses pengolahan limbah industri, tetapi gas tersebut lebih banyak terbuang dari di manfaatkan. Beberapa contoh metanogen, antara lain Methanobacterium, Methanosarcina, Methanococcus, Methanopyrus, dan Methanospirilium.
Methanosarcina mazei  contoh Kelompok Erchaebacteria Metanogen
(mampu menghasilkan Gas Metan)

Ekstrem halofil
Jenis ini meliputi Archaebacteria yang hidup di lingkungan alami berkadar garam tinggi (mengandung 25 % NaCl), misalnya Laut Mati, dan Danau Great Salt, atau di ladang-ladang pembuatan garam. Mereka tidak dapat hidup di lingkungan yang berkadar garam rendah karena garam diperlukan guna membangkitkan energi (ATP) untuk pertumbuhannya. Ion-ion Na +  dalam garam (NaCl) menstabilkan dinding sel, ribosom, dan enzimnya.

Halobacterium halobium, yaitu suatu jenis Archaebacteria ekstrem halofil yang hidup di Danau Great Salt, beradaptasi dengan lingkungan berkadar garam tinggi dengan cara membentuk “membrane ungu”, yaitu pigmen penangkap cahaya yang terdapat di membrane plasmanya. Pigmen itu sejenis rodopsin dan disebut bakteriorodopsin. Organisme ini merupakan heterotrof yang melakukan respirasi aerob. Konsentrasi NaCl yang tinggi membatasi ketersediaan oksigen untuk respirasi guna menghasilkan ATP. Karenanya, mereka mampu menambah kapasitas produksi ATP dengan cara mengubah energy cahaya menjadi ATP dengan menggunakan bakteriorodopsin. Contoh ekstrem halofil lainnya adalah Natronobacterium, Halococus, Haloferax, Halobacterium salinarum, dan Haloarcula.

Termoasidofil
Termoasidofil adalah kelompok Archaebacteria yang hidup dilingkungan bersuhu sangat tinggi (80-110 derajat Celcius), ber-pH rendah (kurang dari 2) atau asam, dan mengandung belerang (sulfur). Beberapa anggotanya hidup di kawah gunung berapa atau mata air panas yang bersuhu di atas 100 derajat celcius. Contohnya Sulfulobus, Thermoproteus, dan Pyrobaculum. Sementara itu, jenis Pyrodictium, Pyrococus, dan Archaeoglobus hidup di sumur hidrotermal di dasar laut yang juga bersuhu diatas 100 derajat celcius. Organisme-organisme tersebut memerlukan suhu tinggi untuk pertumbuhannya. Membran dan enzim-enzimnya stabil pada suhu tinggi. Sebagian besar Archaebacteria golongan ini juga memerlukan sulfur untuk pertumbuhannya. Beberapa jenis merupakan organisme anaerob. Beberapa jenis lainnya mengoksidasi sulfur sebagai sumber energinya. Jenis Sulfolobus merupakan Archaebacteria termoasidofil pertama yang ditemukan oleh Thomas D. Brock dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat pada tahun 1970. Sulfolobus ditemukan di mata air panas di Taman Nasional Yellow stone, Amerika Serikat.

ARTIKEL TERKAIT:

mjumani, Updated at: Rabu, Desember 17, 2014

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Maaf Pesan Akan di Moderasi Dulu Sebelum Di Terbitkan
Pesan yang kurang sopan atau kurang pantas akan di Hapus.

 

mjumanion