Kamis, 01 Juni 2017

Observasi Herpetofauna di Tahura Sultan Adam - Kalsel

Mjumani.net - Herpetofauna mungkin masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat. Bagi saya sendiri, istilah ini belum begitu familiar meski pernah mendengar kata ini beberapa kali. Sebagai bagian dari ekosistem, setiap fauna tentu memiliki peran masing-masing yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Karena setiap mereka telah menempati posisinya di jaring-jaring makanan. Kehilangan salah satu dari mereka akan berdampak pada terganggunya kestabilan ekosistem.


Herpetofauna
Leptobrachium
Berdasarkan penelusuran di google, Herpetofauna adalah kelompok hewan dari kelas reptil dan amfibi (Das, 1997). Pada saat ini keberadaan herpetofauna masih dianggap kurang penting jika dibandingkan dengan kelas Mamalia dan Aves (Farikhin et. al., 2012).

gambar Hylarana picturata
Hylarana picturata foto dari Biodiversitas Indonesia

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam observasi herpetofauna bersama tim dari Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia (Biodiversitas Indonesia) ke Taman Hutan Raya Sultan Adam, Kalimantan Selatan. Observasi yang lebih memfokuskan kepada kelompok amfibi terutama spesies katak dan kodok itu ternyata membuka wawasan saya. 

Jenis-jenis katak di Indonesia
Kegiatan Herping Bersama Tim Biodiversitas Indonesia
Sejauh yang saya ingat, dalam beberapa tahun terakhir paling tidak ada enam kali saya berkunjung ke kawasan yang juga dibuka sebagai objek ekowisata dan hutan pendidikan ini. Namun tidak pernah terbetik untuk ingin tahu seberapa luar biasanya kawasan konservasi ini menyimpan kekayaan fauna jenis amfibi terutama jenis katak dan kodok. 
foto-foto herpetofauna
Salah satu jenis katak yang kami temukan 

Pada kegiatan herping yang ke-10 inilah akhirnya saya sadar, ternyata ada banyak hal luar biasa yang tidak kita sadari yang sebenarnya tidak kita sadari. Kebanyakan dari kita terlalu berpikir muluk-muluk dan "merendahkan" bangsa sendiri dan terpaku pada kehebatan bangsa lain.  Padahal kenyataannya justru terbalik, di luar sana negara-negara begitu "ngiler" melihat kekayaan alam Indonesia tidak terkecuali Keanekaragaman flora dan faunannya. 

Contoh kecil dari pernyataan saya tersebut adalah, tahukah kamu kalau salah satu katak terkecil di dunia ada di Tahura ini. Spesies katak bernama Microhyla borneenis ini hanya berukuran sekitar 10,6 mm -12,8 mm. Katak jenis lain yang juga berukuran mini adalah Chaperina fusca yang berukuran 18-21 mm untuk jantan dan 20-26 mm untuk betinanya. Tidak hanya yang berukuran mini, jenis katak raksasa dari genus Limnocetes juga ada di kawasan ini, jenis katak raksasa seperti yang baru-baru ini ditemukan di Enrekang tersebut dapat mencapai bobot 1,5 kg. 

Tentu saja upaya melacak keberadaan jenis-jenis katak dan kodok tersebut tidak mudah. Misalnya untuk kegiatan yang saya ikut kemaren saja, hujan telah turun semenjak kami tiba di lokasi. Kegiatan herping tidak hanya harus menahan dinginnya udara di bawah guyuran hujan tetapi juga harus sanggup menelusuri lantai hutan yang licin, dan dengan berbagai resiko lainnya. 

Karena itulah, sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, kita sebagai warga negara Indonesia harus berbangga dan sudah saatnya menaruh perhatian lebih terhadap kekayaan alam flora dan fauna yang tak ternilai harganya, tak terkecuali herpetofauna. 

Indonesia memiliki sekitar 7,3 persen dari total jumlah reptil yang ada di dunia atau sekitar 511 jenis, dan 150 nya adalah endemik. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai negara ke empat yang memiliki kekayaan fauna reptil di antara seluruh negara di dunia. 

Keanekaragaman jenis ampfibi Indonesia pun sangat luar biasa, setidaknya ada 270 jenis amfibi yang sudah tercatat dan 100 diantaranya bersifat endemis, yang menjadikan Indonesia sebagai negara peringkat ke enam dunia di bidang keanekaragaman jenis amfibi.

Sayangnya meski Indonesia memiliki keanekaragaman herpetofauna yang luar biasa, perhatian terhadapnya masih sangat minim. Tidak banyak lembaga baik pemerintah maupun non pemerintah yang secara intensif melakukan eksplorasi dan identifikasi dan mempublikasinyannya kepada masyarakat umum sehingga banyak kawasan menjadi habitat hewan ini rusak baik karena faktor ketidak tahuan maupun kesengajaan, karena kurangnya pemahaman masyarakat akan sama pentingnya hewan-hewan tersebut bagi ekosistem. 


ARTIKEL TERKAIT:

mjumani, Updated at: Kamis, Juni 01, 2017

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Maaf Pesan Akan di Moderasi Dulu Sebelum Di Terbitkan
Pesan yang kurang sopan atau kurang pantas akan di Hapus.

 

mjumanion